Pusdiklat BMKG Gelar Pelatihan “Group Fellowship Training On The Enhancement of Numerical Weather Prediction 2021”

Jakarta – Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) BMKG kembali menggelar pelatihan “Blended Group Training On Numerical Weather Prediction 2021″ bersama World Meteorogical Organization (WMO) yang berlangsung secara daring melalui zoom meeting pada Kamis (20/05/2021). Kegiatan tersebut akan berlangsung dari 20 Mei hingga 2 Juli 2021.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memberikan sambutan mengenai peristiwa hidrometeorologi parah yang seringkali menyebabkan banyak korban, serta menimbulkan kerusakan infrastruktur. Banyak bencana seperti, kemarau panjang, hujan lebat, dan angin kencang menimbulkan kerugian dalam perekonomian masyarakat, terutama yang tinggal di negara rawan bencana.

“Untuk prakiraan cuaca buruk, prediksi numerik yang andal sangat penting dalam menghasilkan prakiraan yang akurat dan informasi peringatan dini. Oleh karena itu, National Meteorological and Hydrological Services (NMHSs) sebagai lembaga penanggung jawab yang wajib memberikan informasi cuaca yang akurat sangat mengandalkan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini dari Numerical Weather Predictions (NWP),” ujar Dwikorita.

Dwikorita juga menambahkan bahwa saat ini Indonesia telah menerapkan model WRF untuk prakiraan cuaca atau penelitian ilmiah untuk memperbaiki upaya mitigasi dan strategi zero korban. “Metode prakiraan cuaca canggih dengan menggunakan model WRF akan diberikan untuk membantu para peramal dalam mengidentifikasi dan menganalisis peristiwa fenomena cuaca ekstrim, siklon tropis, abu vulkanik dan kebakaran hutan,” kata Dwikorita.

Selain itu, Dwikorita mengungkapkan bahwa tujuan dari pelatihan ini akan meningkatkan kemampuan serta kompetensi meteorogoli dalam menerapkan Numerical Weather Prediction (NWP). “Model NWP akan dieksplorasi dalam kursus pelatihan ini, dengan fokus pada fenomena mesoscale dan dinamika dengan penekanan pada simulasi sistem cuaca mesoscale, teknik verifikasi model dan parameterisasi fisik model,” jelasnya.

Sejauh ini, BMKG telah mengimplementasikan model Weather Research and Forecasting (WRF) untuk prakiraan cuaca harian dan keperluan eksplorasi ilmiah. Oleh karena itu, Dwikorita menyampaikan bahwa penggunaan model WRF sebagai alat utama NWP akan dibahas dalam pelatihan ini.

“Selain model WRF, peserta juga akan diberikan model numerik untuk lautan. Mata kuliah Konsorsium Pemodelan Skala Kecil (atau model COSMO) juga akan dieksplorasi dalam pelatihan ini untuk memperkaya pengetahuan peserta,” ujar Dwikorita.

Selanjutnya, Dwikorita mengatakan bahwa pelatihan ini akan digelar dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung mulai hari ini dan fokus pada teori dan pemahaman konseptual peserta. Sementara tahap kedua rencananya akan dilakukan di tahun 2022 dengan fokus pada praktik di lingkungan Regional Training Center (RTC) Indonesia. Upacara pembukaan ini juga dihadiri oleh President WMO RA V ‘Ofa FA’ANUNU.

Tercatat sebanyak 14 negara mengikuti pelatihan ini, antara lain Fiji, Indonesia, Kiribati, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Qatar, Samoa, Arab Saudi, Solomon, Timor Leste, Tuvalu, Zambia dan Zimbabwe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *